Langsung ke konten utama

BERPISAH UNTUK KEMBALI


Salah Satu Lembar Tulisan Untuk "Sahabat"


SMA telah berlalu dan kali ini kuliah menjadi inspirasiku. Tak terkecuali dengan para sahabatku, yang menjadi orang dekat senasib sepenanggungan dikala hukuman dan kegiatan sekolah kami lalui. Tapi beda kisah beda jaman, beda orang beda karakter, begitupun cita-cita kami. Akhirnya hijrah dari asal kami di Kabupaten Pinrang, dilanjutkan menuju Kota Makassar. Kota Daeng tempat kelahiran para Karaeng, Kota angin mamiri, yah kurang lebih itulah kutipan Ungu dalam lagunya.  Meskipun awalnya hijrahnya kami masih bersama-sama, tapi kali ini kita mank harus berpisah. Sedikit mengingat pesan masing–masing saat berpisah, mereka yang segalanya ingin mencapai cita-cita dan membuat bangga orang tua mereka. Lebih lagi ingin merubah imej orang-orang tentang mereka. Mereka yang hanya senang berpoya-poya, buat masalah, permainkan anak wanita, buat guru menangis, pokoknya seolah-olah tak ada lagi baik untuk mereka berenam.

Iyah enam orang itu (Afi, Arif, Ammank, Heril, Sapri, Ulil). Dengan berbagai pandangan memberanikan kami meninggalkan daerah asal, yang mempertaruhkan harapan orang tua. Yang takutnya anaknya tambah kacau, hancur, serta masalah baru akan datang. Tidak banyak yang aku kutip untuk lembaran kali ini, cuman mengingatkan para sahabatku yang mengejar cita-citanya serta merefleks kita yang yang gila-gila ini tetap laksanakan tugas utama kepada Yang Maha segala-galanya, apalagi kalo bukan yasinannya dimalam jum’at meskipun kadang bolong-bolong sih. Kalian yang selalu ada dalam setiap janji, kalian yang bukan Habibi, bukan Jusuf Kalla, serta orang besar lainnya. Namun kita yang sama dengan mereka sebagai manusia biasa yang butuh proses dan yakin kita juga pasti sukses sesuai dengan jati diri kita masing-masing.

Masih ingat ekspresi wajah dan suara kalian dihari-hari lain, tidak pernah kita dengar dan ekspresikan lagi?. Kemudiaan satu-persatu antrian kalian lakukan hanya untuk menulis jannji pada sebuah dinding yang hari ini tak pernah terhapus pada sudut kamar Sahabat, kita yang berpisah karena cita-cita itu, apakah hari ini kalian sudah ada yang mencapainya?

Pesan arif datang ‘kapan kamu selesai’ begitupun yang lain. Kemudian aku balas kapalmu sudah dimana? Saya rasa semunya sudah mulai mengingat janji mereka masing-masing. Bahwa target sudah pada dekat, meskipun tidak sedekat dengan maut yang selalu berada di sekeliling kami dan pastinya dengan mereka juga. Datanglah dengan kesuksesan kita masing-masing, bukankah berpisah hari ini hanya untuk membuat sejarah dan membantuku untuk menulis kisah kalian. Ulil ombak yang besar hari ini tak akan surut oleh semangatmu untuk membangun tembok besar untuk taman orang tuamu. Arif kamu yang tidak ambil pusing setiap sesuatu, tapi lebih cepat untuk merespon keinginan orang tuamu, semoga kamu tidak buru-buru sama si Dia, takutnya aku tak mampu memberi apa-apa saat ini. Ammank yang sangat detail dalam program S2 di Negeri Kanguru akan buatku lebih semangat untuk membuat tulisan-tulisan ini, aku ingat saat aku dilarang kuliah tapi bapak dan ibumu mambawaku nekad bersamamu di Makassar (fastabikul khaerat sahabatku). Heril aku tak bermaksud bercerita aibmu kawanku, namun jauh dari itu aku senang akan dirimu yang berjuang hari ini demi dirinya bersama anakmu, dipihak lain pembuktiaan yang reel untuk orang tuamu. Sapri yang lebih bersikap pasrah pada keadaan namun tatap memikirkan orang disekitarnnya, aku tahu kamu ingin orang tuamu akan selalu ada di setiap kesenangannmu. Diriku di lembar awal aku sudah berpanjang lebar biarlah kalian yang membacanya memberi jawawaban sendiri. Sahabatku kirim pesanku untuk kalian yang sudah berada di ambang cerita kalian.

Semoga mereka yang hari itu ada untuk memberi semangat buat kalian akan selalu ada. Termasuk mereka yang ada selain dari keluarga kalian, untukku wanita yang sempat aku ceritakan untuk kalian sampai kalian rekam dan perdengarkan disaat acara berkumpul. Semoga dia benar pilihan terakhirku, pada sesi penyelesaian tentang kalian para sahabatku. Aku sering sempatkan menelfon dengannya ‘kalaupun mendengar suaranya mampu membantuku dalam penyelesaian segala model cerita ini’ yah agak lebay untuk orang lain. Tapi kalian, aku yakin bahwa untuk perjuangan dan pilihan mank terkadang tak sejalan dengan akal sehat. Malah aku sempatkan menulis kisah untuknya sebagai motivasiku, kampus dan segala hal yang mennyangkut tentang para Pemimpin yang berada di UIN Alauddin Makassar.  Bravo untuk SLOWS di segala penjuru, dan di lembaran lainnya aku tunggu kutipan kalian, dan menunggu bertemunya para orang gila yang tetap taat akan tanggung jawab.




AFIDATUL ASMAR

FDK MD UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BELAJAR DARI TUKANG SATE

Minggu 30 April 2013, menjadi pelajaran tersendiri terhadap teman-teman dan juga diriku. Kenapa tidak salah satu tempat kesukaanku dan teman-teman kumpul mengalami kendala yang begitu amat disayangkan. Iyah alih-alih berangkat dari kampung halamannya Madura, Jawa Timur sesuai slogan pada grobak satenya. "Sate Madura" yang menjadikan Makassar sebagai tempat mengadu nasib, malah mendapat masalah yang diadopsi pada masyarakat selaku tuan rumah. Tapi salahnya mereka menjatuhkan hukuiman pada orang yang tidak tepat. Wajahnya yang lesu, badan yang bodinya lumayan tidak salah sebagai pedagang makanan. tidak biasanya malam itu dia hanya terdiam duduk tampa sapaan, yang biasanya terdengar ditelungaku saat dia telah menyodorkan pesanan yang biasanya sesuai menu pilihanku. Mas Rian kenapa lesu, apa pemasukan tidak seuai hari ini?. Jawabnya bukan Mas tapi Bos pusing kami juga ikut pusing. Kenapa?, iyah mas itu orang yang ada di sampingnya datang menagih sewa tempat pemasangan g...

UJIAN APA TEGURAN

‘Sombong melangkah istana yang megah, ribuan jerit didepan hidungmu namun yang ku tahu tak merasa mengganggu’, begitulah kutipan lagu Iwan Fals (Siang Seberang Istana), disaat aku mengawali tulisan ini. Di tempat lain yang masih terjama oleh mataku aku melihat sosok adik wanitaku yang menjerit kesakitan dengan taraf yang sangat rendah. Iyah kenapa tidak, dia hanya bisa terbaring, makan, minum, hingga mengeluarkan kotoranpun dia hanya bisa melakukannya dengan tuntunan beberapa keluragaku. Tak terkecuali Ibuku, refleks dibenakku beginikah manusia saat tidak bisa berbuat apa-apa. Yang kesehariaannya seolah tak akan kalah oleh apapun namun kini tak jauh beda dengan bayi yang belajar untuk mengenal dunia ini. Kurang lebih aku kembali menguji ilmu dan ingatanku, bahwa proses manusia didunia diawali dari bayi dan seketika akan kembali seperti bayi. Artinya manusia diawali pada sebuah proses dan berakhir dari proses awal (bukankah kita yang berasal dari tanah, akan kembali ketanah ju...

SIAPA LAWAN-KAWAN, SIAPA YANG DIPERCAYA-TERPERCAYA ?

Hari ini semuanya berbicara soal idialisme, nasionalisme, hingga kebenaran dan kejujuran. Namun buktinya semua hanya jadi wacana sesaat yang buat semuanya jadi pahlawan kesiangan. Yah siapa lawan, siapa kawan ? Paling semuanya sudah diatur sedemikian rapi, sehingga tak ada yang mengetahuinya, kecuali mereka yang membuat konsepnya. Pada ahirnya sebagai mahasiswa kita berusaha menjadi sosok yang selalu mencari jalan keluar dari berbagai aspek, meskipun aspeknya juga hanya memberi keuntungan beberapa golongan. Yah siapa yang harus dipercaya ? Semua bisa saja semuanya sama, ataupun ada yang berbeda, tapi pilihan tetap ada pada kalian selaku pengendali diri sendiri. Yah intinya mari terus belajar dari semua aspek, perbanyak teman dan jaringan, karena semua butuh waktu serta semua akan indah pada waktunya. AFIDATUL ASMAR FDK-MD UIN ALAUDDIN MAKASSAR