Minggu 30 April 2013, menjadi pelajaran tersendiri terhadap teman-teman dan juga diriku. Kenapa tidak salah satu tempat kesukaanku dan teman-teman kumpul mengalami kendala yang begitu amat disayangkan. Iyah alih-alih berangkat dari kampung halamannya Madura, Jawa Timur sesuai slogan pada grobak satenya. "Sate Madura" yang menjadikan Makassar sebagai tempat mengadu nasib, malah mendapat masalah yang diadopsi pada masyarakat selaku tuan rumah. Tapi salahnya mereka menjatuhkan hukuiman pada orang yang tidak tepat.
Wajahnya yang lesu, badan yang bodinya lumayan tidak salah sebagai pedagang makanan. tidak biasanya malam itu dia hanya terdiam duduk tampa sapaan, yang biasanya terdengar ditelungaku saat dia telah menyodorkan pesanan yang biasanya sesuai menu pilihanku. Mas Rian kenapa lesu, apa pemasukan tidak seuai hari ini?.
Jawabnya bukan Mas tapi Bos pusing kami juga ikut pusing.
Kenapa?, iyah mas itu orang yang ada di sampingnya datang menagih sewa tempat pemasangan gerobak jualan ini. terus harus kami berikan malam ini, dan setiap bulan harus kami lakukan. refleks aku bertanya apa dia yang miliki tanah daerah sini? jawabnya iyah mas.
Tampa panjang lebar aku coba menghampiri pria situan tanah itu. waw mank postur tubuh yang besarnya dua kali lipat dengan postur tubuhku membuatnya sedikit lebih sombong. tapi teori yang aku tahu, diatas langit masih ada langit. aku lalu bertanya padanya, apa benar bapak yang pemilik tanah ini? katanya dia yang ditugaskan untuk menjaga daerah sini.
Begitu tidak masuk akal jawabannya. mank benar kata pepatah "tong Kosong Nyaring Bunyinya" termasuk sok tuan tanah ini, sepengetahuanku daerah yang dimaksud adalah tanahnya merupakan bagian dari daerah pemerintah. Bukan derahnya dia, toh dia saja mendirikan bangunan harus memiliki surat izin bangunan. Parahnya lagi ketika cerita kemudian saya lanjutkan bersama mas rian di juga memberitahuku kalau semisalnya setiap malam dia membayar juga untuk keamanan yang menk itu wajar adanya. Namanya juga hukum alam, tapi yang tidak masuk akal buat saya adalah pembayaran setoran setiap bulan yang berjuta rupiah, dan tampa ada kuwitansinya (tanda bukti) dalam teransaksi tersebut, yah secara kekuatan hukum bapak ini sudah benar-benar gila.
Tak mau kalah darinya, berbekal ilmu yang diajarkan didunia kampus dan pergaulan membuatku ngetes sejauh mana kemampuanku mengelolah situasi, kalopun dia mau marah aku menang, dengan didampingi mas rian dan bosnya. akhirnya dia berlalu dan berjanji akan datang lagi besok malam (yang ini kita sensor yah).
Sebuah pelajaran berharga yang begitu nyata bagiku, bahwa mas Rian yang sehari-arinya berjualan sate dengan wajah yang riang terpancar pada wajahnya rasa takut yang amat sangat. Kenapa tidak katanya kalo si bapak tadi mabuk mas dia itu ngaco. Lantas dengan singkat aku menjawab namanya juga mabuk. akhirnya malam ini bisa sedikit lega dengan segelas kopi dan perbincangan yang untuk saat ini biarlah menjadi bagian terpenting untukku karena ada pada saat itu. Tapi nekatnya aku berusaha mengajak mas mencari tempat lain yang bisa menenangkannya untuk usaha yang jelas dan tenteram selaku manusia. Tapi baginya dia jawab biarlah mas toh aku juga sudah terbiasa akan hal itu. Namanya juga merantau dikampung orang (quate paling mantap sekaligus motivasi berharga sepanjang hidup).
Singkat ceritaku untuk malam ini, belajar yang aku maksud adalah begitu sabar dan bijaknya mas Rian ini dengan situasi yang membahayakan dirinyapun dia tetap mengaku bahwa sudah ada yang ngatur mas, jadi kemanapun aku pasti ujungnya begitu juga.
Diaambilnya sate yang indah akan rautan bambu, kemudian menjadi alat tusuk sate, yah 4-5 irisan kemudian di bumbu oleh racikan yang mank hanya dimiliki oleh mas Rian. sungguh sengit perjuanganmu. semoga segala apa yang kamu kerjakan menjadi titah tersendiri oleh sang penguasa, Allah Swt AMIN.
Tak banyak yang harus aku cerita , tapi mengajak kepada pembaca bahwa kisah ini benar adanya tepatnya di kota Makassar, kota Daeng katanya. bukan berarti aku malu jadi bagian mereka. karena apa salahnya kota ini. tapi yang begitu kacau yah terkadang bagian-bagian yang hidup di kota ini. Akhirnya mau bukti, yah jalanlah di warungnya mas Rian yang selalu mengajarkanku tentang arti sebuah kesabaran (ditambah satenya yang kadang dapat gratis nan enak rek).
Afidatul Asmar
FDK-MD UINAM
Komentar
Posting Komentar