‘Sombong
melangkah istana yang megah, ribuan jerit didepan hidungmu namun yang ku tahu
tak merasa mengganggu’, begitulah kutipan lagu Iwan Fals (Siang Seberang Istana),
disaat aku mengawali tulisan ini. Di tempat lain yang masih terjama oleh mataku
aku melihat sosok adik wanitaku yang menjerit kesakitan dengan taraf yang
sangat rendah. Iyah kenapa tidak, dia hanya bisa terbaring, makan, minum, hingga
mengeluarkan kotoranpun dia hanya bisa melakukannya dengan tuntunan beberapa
keluragaku. Tak terkecuali Ibuku, refleks dibenakku beginikah manusia saat
tidak bisa berbuat apa-apa. Yang kesehariaannya seolah tak akan kalah oleh
apapun namun kini tak jauh beda dengan bayi yang belajar untuk mengenal dunia
ini. Kurang lebih aku kembali menguji ilmu dan ingatanku, bahwa proses manusia
didunia diawali dari bayi dan seketika akan kembali seperti bayi. Artinya
manusia diawali pada sebuah proses dan berakhir dari proses awal (bukankah kita
yang berasal dari tanah, akan kembali ketanah juga?).
Diselang
fikiranku yang ngawur kata bahasa gaul, aku
mencoba melihat tangannya yang betul-betul butuh mu’jizat dari Yang Maha Kuasa. Engkau yang menguasai segalanya kenapa harus keluargaku?. Pertanyanku mank saat
itu yang tiba-tiba muncul untuk bertanya kepadadanya. Bulan ini berentetan Dia
mencoba mengacaukan fikiranku, dan seolah aku tak lagi ingin menyebutnya
(fikirku Dia malah semakin besar kepala kalo aku selalu menyebutnya). Mulai
dari Ibuku, orang kota bilang, tapi cukup aku menyebutnya dengan mamaku yang dibuatnya terbaring.
Kemudian nenek yang diambil dari kami.
Yang tak ada lagi kami jaga seperti biasanya. Malam ini yang aku sapa adik
wanitaku yang bakal melanjutkan sosok mamaku di suatu hari nanti, juga
dibiarkan terbaring Oleh-Nya, yang pastinya apa yang dideritanya akan sedikit
memakan waktu yang lama. Iyah agak sedikit bersyukur yang patah oleh kejadian
tabrak lari itu tangan kirinya.
Kalian
berfikir aku gila yah? Menganggap Tuhan itu seolah saudarku kemudian tetap juga
bersyukur. Aku cuman ingin jelaskan melalui kejadianku apakah ini kemudian
ujian yang di berikan kepada keluargaku, terus kenapa harus sebesar ini. Apakah
Dia benar-benar mengujiku atau malah menegurku atau bahkan begitu sayang dengan keluarga kami?. Jauh dari itu kalian yang
membaca tuklisanku akan memiliki alasan lain pastinya (hee silahkan, tidak ada larangan), artinya tak salah apa yang kalian
fikirkan terkait Tuhan yang menjadi
landasannnya kalian. Yang jelasnya mari untuk semuanya, sevjenak aku mengajak untuk semua
meniggalkan perdebatannku dengan Tuhanku. Dan kembali instrospeksi diri ini,
mengingat apakah yang selama ini kita lakukan mank wajar, atau malah membuat
Yang Maha Kuasa semakin murkah kepada diri ini. Merasa paling benar karena
sudah pintar, merasa cantik karena setiap pria selalu memujah wajah ini, merasa
hebat karena setiap pertarungan dimengkan, dan lain-lainnya.
Ya Rab
tak apa ujianmu ini berentetan, atau teguran ini bertahap seolah pergantian
siang dan malam yang engkau perlihatkan untukku. Namun seolah tak ingin
mengurangi rasa hormatku padamu engkau Yang Maha Segalanya kabulkan Doaku untuk
tetap menjaganya aggapanku hari ini, bahwa engkau menyapa dalam bentuk lain dari yang lain, yah dan siapa yang mampu menebakknya saat itu gilirannku. Ketahuilah tak ada dzat yang mampu
mengalihkanku darimu, karena untuk semua orang berharga buatku kan kusebut
namamu untuk mewakilimu akan rasa dan kecintaanku atas mata dan
perasaan yang engkau ciptakan ini. Termasuk Dia
yang jauh dan bersuara lain untuk hari hingga malam ini. Tak ingin berdoa bahwa
bisa menjaganya, namun menyembuhkannya adalah keinginan terbesarku unutk saat
ini disaat aku lagi berkumpul dengan para keluarga dan adik wanitaku yang sudah
aku jaga seolah sang perawat yang tak mau kalah oleh penilaian manusia umumnya.
Aku
sudah banyak belajar dari kejadian keluargaku, sudahlah Tuhan sembuhkanlah
Adikku’ seolah meskipun pelajaran itu masih banyak. Setidakknya adikku ini
manusia biasa beserta keluargaku. Yang aku impikan malam ini bagaimana
kemudiaan dia bisa beraktifitas kembali. Mengikuti segala proses sekolahnya
hingga kembali berkreasi dalam cita-citanya. (Hitung-hitung dia mampu menjadi agen agmamu kelak untuk hamba-hambamu nantinya)
“Kaka……..?
jangan menagis, setidakknya sakitji tanganku na teriaka’’. Sok jadi yang tua
begitukah anak kecil dalam meyakinkan kakanya disaat semuanya tetab baik. Kemudian aku mermbalasnnya ka tidak
nangis ja ini tapi kaka mau adekku sembuh. Kemudiaan aku berlalu darinya dan
melanjutkan tulisan ini. Sembari mengingat Dia yang saat bertemu dengannya
sudah pulih dan mampu beraktifitas disekolah lagi,
AFIDATUL
ASMAR
FDK MD
UIN ALAUDDUN MAKASSAR
Komentar
Posting Komentar